Kamis, 10 April 2014
Rabu, 09 April 2014
Mencari Wajah Sukabumi
Mencari Wajah Sukabumi
Oleh : Husni Shaleh
Seorang Wiraswasta
Alumnus FH UII
Yogyakarta
Sejatinya sebuah kota hendaklah mampu memberikan kenyamanan, ketenteraman dan
kebanggaan terhadap warganya. Kota dengan segala hiruk pikuknya siap
menjembatani kebutuhan warganya akan prospek, sekaligus tantangan ke depan. Warga sebuah kota yang berada pada lanskap
kemajemukan ekonomi, sosial atau bahkan
kebutuhan rekreatif diharapkan mampu diserap oleh keseimbangan aspirasi sebuah
kota.
Di ruang lain, para
pemangku birokrasi, dengan membawa sumber daya yang ada berkewajiban
menyeimbangkan tuntutan warga kota. Diperlukan kemauan yang representatif untuk
itu.perencanaan sebuh kota diupayakan
menghindari kemilau kemegahan dan bisnis semata, yang bisa menempatkan
sebagian warganya terasing pada tempat yang ia pijak sendiri, yaitu ekspresi
karakter, sejarah dan watak budaya kotanya.
Untuk itulah perlu
dipelihara dan dikenang kontribusi
karakter sebuah kota. Tidak peduli apakah ia hadir sebagai sebuah metropolis
atau kota kecil sekalipun.
Ambilah contoh
Yogyakarta, kota pelajar yang berminiatur Indonesia, tarikan nafas budayanya
relatif terasa masih segar.Patut diberikan apresiasi terhadap masyarakatnya
yang masih menerima perlambang kosmos, yang hadir berupa garis persfektif dari
Sitihinggil keraton sapai ke figur tugu ke arah utara, yang melewati bentangan
Jalan Malioboro, P. Mangkubumi, sehingga
sepanjang dua ruas jalan tersebut tidak terdapat jembatan penyeberangan
atau bentuk bangunan lain yang menghalangi pandangan dari keraton ke “titik
fokus “ tugu yang berdiri di tengah
perempatan jalan : P. Mangkubumi, P. Diponegoro dan ke utara
ke arah magelang.
Surabaya , yang tidak
diragukan lagi warna historisnya sebagai kota republik. Menyimpan intrinsik
kota pahlawan dengan mengambil landmark
jembatan Merah dan Tugu Pahlawan
yang terkesan simpel tapi padat
maknanya.
Ada lagi Palembang,
nah ini kota tua, yang ditarik dari
Kedatuan Sriwijaya. Kehadirannya terasa dari berkah Sungai Musi. Sungai
ini adalah simpul tafsir sejarah. Selain mewadahi tumpahan mobilitas sosial
ekonomi warganya . Makanya ia berciri
dan berpredikat kota air ( waterfront city ), terlebih lagi diisyaratkan dengan
ikon jembatan Ampera
Ya, semua itu adalah
wajah kota berakar dari karakternya ..
Lantas dimana wajah
kota Sukabumi ?
Pada penghujung paruh kedua abad ke 17 komoditas
tanaman kopi mulai dilirik Belanda. Gubernur Jendral Van Riebeek dan Gubernur Jendral Zwadecroon berinisiatif membuka perkebunan kopi ke habitatnya yang sejuk di Bogor,Cianjur dan
Sukabumi.
Pada 1711 Bupati Cianjur Wiratanudatar III,
bersukacita memetik panen pertama kopi , setelah terlebih dahulu Gubernur
Jendral Van Horrn ( 1704 – 1709 ) menyerahkan beberapa bibit kopi kepada para
bupati di Priangan dan Cirebon.
Untuk mengangkut
hasil kopi itu pada 1786 dibuat jalan
setapak yang bisa dilewati kuda terhubung antara Batavia, Cianjur dan Bandung.
Sebagai komoditas
kolonial, tentulah tak terhidarkan eksploitasi produksi dan faktor-faktor
produksinya, yaitu para pekerja atau petani pribumi. Semula kopi diperdagangkan
secara bebas, kemudian harganya ditentukan secara sepihak oleh VOC.
Akhirnya pada 1740
dibuat peraturan contingenten ( wajib
setor sejumlah tertentu ). Sebagai akibatnya
pada 1739 Permerintah Belanda mengeluarkan plakat larangan, karena
banyak penduduk yang melarikan diri ke
daerah lain akibat dari peraturan wajib kerja pribumi, guna mengejar
target panen kopi.
Ketika pen jajahan
nusantara beralih ketangan Inggris.
Gubernur Jendral Sir Thomas Stanford Raffles pusing jungkir balik memikirkan kas pemerintahan
yang kempis. Perperangan dengan Belanda menyebabkan bayak biaya yang terkuras.
Untuk itu perlu solusi yang segar untuk memasukkan pundi pundi uang kekas birokrasi yang tekor.
Maka terbitlah ide
untuk swastanisasi tanah tanah jajahan. Segera Raffles menjual
tanah tanah di wilayah Priangan, Krawang, Semarang dan Surabaya.
Adalah Dr Andries De
Wilde , seorang dokter ahli bedah Belanda, dinasnya pada pasukan artileri. Ia menyandang karier yang menanjak, menjadi
pembantu pribadi Gubernur Jendral
Daendels. Berkat kedekatannya dengan Daendels etos kerja sang meneer
lebih miring kearah bisnis ketimbang seorang ahli bedah, ia gandrung
berinvestasi dan berspekulasi. Basis investasinya
dimulai dari bilangan Jasinga bogor di sini
ia dikenal sebagai seorang tuan tanah
Pada 25 Januari 1813
Dr. Andries membeli tanah di Sukabumi, luasnya kurang lebih lima perduabelas dari seluruh luas tanah yang
ada di Sukabumi Intuisi bisnisnya kian peka
ketika melihat perkembangan tanah di Sukabumi kalah cepat dengan wilayah Bandung. Untuk itu ia segera
mengajukan permohonan untuk menukar tanahnya di
Jasinga dan Sukabumi dengan tanah di Bandung .Permohonannya dikabulkan,
kemudian ia menetap di Bandung di kampung
Banong dan kawin dengan putri Priangan.
Perasaan kecewa yang
mendalam dialami Dr. Andries ketika kepemilikan tanahnya dibatalkan oleh Gubernur Jendral Van der
Capellen. Ia khirnya pulang ke Belanda membenamkan frustrasinya di sana.
Namun pemikiran tuan
tanah legendaris dan pendiri tidak resmi kota Sukabumi dan Bandung ini
kesudahannya diterima Pemerintah Belanda yaitu yang terasa abadi sampai
sekarang adalah memindahkan Ibu Kota Keresidenan Priangan dan Cianjur ke
Bandung yang direalisasikan oleh Residen Van Der Moore pada 1864.
Dan ia jugalah yang
mengajukan permohonan ke Batavia untuk merubah nama Cikole menjadi Sukabumi, usul ini diterima, 8
Januari 1815 Cikole resmi berganti nama Sukabumi.
Pembatalan kepemilikan tanah oleh pihak swsta kayak yang
dialami Dr. Andries, cukup memberikan isyarat bahwa permerintah kolonial amat
serius memeras bumi Priangan guna kepentingan agrobisnis, yaitu komoditas perkebunan kopi
dan kemudian perkebunan teh.
Bukankah dengan sistem kerja rodi pengelolaan perkebunan akan mendapatkan
keuntungan yang berlipat lipat.
Hampir satu abad
sebelum adanya Culturstelsel, rakyat Priangan telah dikenalkan dengan Sistem
Priangan ( Prianger Stelsel. Dengan sistem ini
Kompeni VOC memanfaatkan pengaruh dan peranan para bupati dan bangsawan
untuk mengerahkan tenaga rakyatnya guna wajib menanam kopi di tanah tanah perkebunan. Kepada Para bupati
dan bangsawan Priangan itu diberikan premi dan hadiah atas keberhasilannya
membuka perkebunan kopi di daerahnya
masing-masing ( Sejarah Sukabumi, Oleh Ruyatna Jaya, Penerbit Yayasab
Pendidikan Islam ( YPI ) Sukabumi, tanpa tahun penerbitan ). Dengan sistem
tersebut perkebunan kopi di daerah Priangan berhasil dengan baik plus ditunjang
infra struktur jalan pos dari Anyer ke Panarukan yang membelah wilayah Priangan
: Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang sampai Cirebon yang berhasil
menembus pedalaman Priangan pada waktu itu.
Demikian sekelumit
masa lalu Sukabumi. Dalam hal ini kita masih bisa menangkap bias agrobisnis pada lahan Sukabumi, yaitu tata kelola perkebunan,
yang aktual sampai sekarang adalah perkebunan teh. Harapan yang lebih baik
adalah bagaimana mengapresiasikan bahkan
mengaktualisasikan sisi masa lalu itu menjadi bagian dari fitrah Sukabumi.
Dengan tidak mengingkari romantisme nostalgia itu akan berhadapan dengan
globalisasi dan modernisasi
Untuk itulah perlu bergegas dicari nilai
integritas Sukabumi . Kita memerlukan “ Brand Image “ untuk itu !
Dan biasanya dibeberapa kota “ Brand Image “ itu begitu gampang ditemui bahkan dinikmati warga
kota, sebab kadang-kadang ia hadir dalam figur landmark kota yang memiliki sisi
ruang publik. Membahas tentang “ Brand Image “ yang intrinsik dan berkarakter
identitas, mestilah juga memerlukan
kreatifitas sehingga bisa ditemukan orisinalitasnya sebagai produk local
genius yang tidak terpisah dari kulturnya. Pada kenyataan
Bahkan juga di ranah akademispun atmosper pencarian
identitas itu semakin seru, karena berpijak pada interpretasi sejarah. Ambilah
contoh tokoh sejarah PARAMESWARA nya kemasan ini tidak habis habis digali dan ditemukan ! Apakah itu mulai dari pakaian khas, arsitektur bangunan, legenda/mitos atau
bahkan makanan khas. figur setengah
dewa yang berkelana dari Bukit Seguntang
di tengah kota Palembang, pada kurun waktu penghujung abad ke 14 di masa-masa kritis keruntuhan
Majapahit.
Dari penulisan yang
berbeda. Barat dengan bukunya Suma Orientale oleh Tome Pires dan tradisi melayu
dalam Sejarah Melayu, ke dua duanya sepakat tentang pendiri Kerajaan Melayu Malaka,
kedua duanya menelusuri dari tokoh penguasa Palembang, yakni Parameswara. Kedua duanya juga sepakat
tentang kedatangannya di Tumasik ( sekarang Singapura ). Sekarang ke dua negara
Malaysia dan Singapura saling mengklaim
bahwa Paramwswara adalah pendiri negara mereka, sebuah aspek yang
mengedepankan ekspresi dari akar, identitas dan integritas , khusus pada elemen sejarah perjalanan bangsa mereka.
Kembali ke esensi
tulisan ini, yang bermuara kepada kehendak untuk menampilkan fitrah Sukabumi yang senantiasa
mengekspresikan wajah kotanya.
Oke, kita coba berjalan dengan memakai kacamata
pelancong, menuju ke jantung kota Sukabumi, tidak salah, Lapang Merdeka. Inilah
permukaan alun alun yang tertekan atau terjerembab secara ekstrem tersulap menjadi lapangan yang hambar, masa
mudanya sebagai “ alun alun kadipaten “
sangat tersia sia. Penampilan pendopo kabupaten di sebelah selatan terlihat jelas belum ada ikhtiar untuk membuatnya
kharismatis, figurnya tertatih tatih tertutupi tanaman hias yang bergerombol minus ditata secara serasi dan estetis. Boleh
jadi banyak orang belum tahu
disana ada kantor legitimasi pemerintah.
Melangkah ke utara sebelah barat kita ( maaf)
dihadang Pos Traffic Management Center
yang sayangnya menutupi
pandangan ke Masjid Agung yang baru
selesai , bangunan monumental ini
selayaknya bebas terlihat dari setiap
sudut sehingga kemonumentalannya lebih terasa bergairah ! Sepotong sisa alun alun
kecil di depan mesjid malah terasa sempit dan sumpek.
Terus melangkah ke Lapang Merdeka kita akan disapa egoisme
arsitektur, semua ingin tampil sendiri-sendiri, tidak satupun mengharmonisasikan bercirikan Sunda.
Maka dari itu tibalah
saatnya bagi Sukabumi menterjemahkan aspek dan nilai agrowisata yang memberikan
sentuhan brand image yang di dalamnya terisi akar,identitas dan karakter
yang terintegrasi pada wajah kotanya.
Pada akhirnya ini
semua hitung hitungan untuk dijual pada pasar wisata, agrowisata misalnya,
begitu !
Langganan:
Komentar (Atom)