Rabu, 09 April 2014

Mencari Wajah Sukabumi

Mencari Wajah  Sukabumi

Oleh : Husni Shaleh
Seorang Wiraswasta
Alumnus FH UII Yogyakarta

Sejatinya  sebuah kota hendaklah mampu  memberikan kenyamanan, ketenteraman dan kebanggaan terhadap warganya. Kota dengan segala hiruk pikuknya siap menjembatani kebutuhan warganya akan prospek, sekaligus  tantangan ke depan.  Warga sebuah kota yang berada pada lanskap kemajemukan  ekonomi, sosial atau bahkan kebutuhan rekreatif diharapkan mampu diserap oleh keseimbangan aspirasi sebuah kota.
Di ruang lain, para pemangku birokrasi, dengan membawa sumber daya yang ada berkewajiban menyeimbangkan tuntutan warga kota. Diperlukan kemauan yang representatif untuk itu.perencanaan sebuh kota diupayakan  menghindari kemilau kemegahan dan bisnis semata, yang bisa menempatkan sebagian warganya terasing pada tempat yang ia pijak sendiri, yaitu ekspresi karakter, sejarah dan watak budaya kotanya.
Untuk itulah perlu dipelihara  dan dikenang kontribusi karakter sebuah kota. Tidak peduli apakah ia hadir sebagai sebuah metropolis atau kota kecil sekalipun.
Ambilah contoh Yogyakarta, kota pelajar yang berminiatur Indonesia, tarikan nafas budayanya relatif terasa masih segar.Patut diberikan apresiasi terhadap masyarakatnya yang masih menerima perlambang kosmos, yang hadir berupa garis persfektif dari Sitihinggil keraton sapai ke figur tugu ke arah utara, yang melewati bentangan Jalan Malioboro, P. Mangkubumi, sehingga  sepanjang dua ruas jalan tersebut tidak terdapat jembatan penyeberangan atau bentuk bangunan lain yang menghalangi pandangan dari keraton ke “titik fokus “  tugu yang berdiri di tengah perempatan jalan : P. Mangkubumi, P. Diponegoro dan  ke utara  ke arah  magelang.
Surabaya , yang tidak diragukan lagi warna historisnya sebagai kota republik. Menyimpan intrinsik kota pahlawan dengan mengambil landmark  jembatan Merah dan Tugu  Pahlawan yang terkesan simpel  tapi padat maknanya.
Ada lagi Palembang, nah ini kota tua, yang ditarik dari  Kedatuan Sriwijaya. Kehadirannya terasa dari berkah Sungai Musi. Sungai ini adalah simpul tafsir sejarah. Selain mewadahi tumpahan mobilitas sosial ekonomi warganya . Makanya  ia berciri dan berpredikat kota air ( waterfront city ), terlebih lagi diisyaratkan dengan ikon  jembatan Ampera
Ya, semua itu adalah wajah kota berakar dari karakternya                                              ..
Lantas dimana wajah kota Sukabumi ?
Pada  penghujung paruh kedua abad ke 17 komoditas tanaman kopi mulai dilirik Belanda. Gubernur Jendral Van Riebeek  dan Gubernur Jendral  Zwadecroon berinisiatif  membuka perkebunan kopi  ke habitatnya yang sejuk di Bogor,Cianjur dan Sukabumi.
Pada  1711 Bupati Cianjur Wiratanudatar III, bersukacita memetik panen pertama kopi , setelah terlebih dahulu Gubernur Jendral Van Horrn ( 1704 – 1709 ) menyerahkan beberapa bibit kopi kepada para bupati di Priangan dan Cirebon.
Untuk mengangkut hasil kopi itu  pada 1786 dibuat jalan setapak yang bisa dilewati kuda terhubung antara   Batavia, Cianjur dan Bandung.
Sebagai komoditas kolonial, tentulah tak terhidarkan eksploitasi produksi dan faktor-faktor produksinya, yaitu para pekerja atau petani pribumi. Semula kopi diperdagangkan secara bebas, kemudian harganya ditentukan secara sepihak oleh VOC.
Akhirnya pada 1740 dibuat peraturan  contingenten ( wajib setor sejumlah tertentu ). Sebagai akibatnya  pada 1739 Permerintah Belanda mengeluarkan plakat larangan, karena banyak penduduk  yang melarikan diri ke daerah lain akibat dari peraturan wajib kerja pribumi, guna mengejar target  panen kopi.
Ketika pen jajahan nusantara beralih  ketangan Inggris. Gubernur Jendral Sir Thomas Stanford Raffles pusing  jungkir balik memikirkan kas pemerintahan yang kempis. Perperangan dengan Belanda menyebabkan bayak biaya yang terkuras. Untuk itu perlu solusi yang segar untuk memasukkan pundi pundi uang  kekas birokrasi yang tekor.
Maka terbitlah ide untuk swastanisasi tanah tanah jajahan. Segera Raffles   menjual  tanah tanah di wilayah Priangan, Krawang, Semarang dan Surabaya.
Adalah Dr Andries De Wilde , seorang dokter ahli bedah Belanda, dinasnya pada pasukan artileri.  Ia menyandang karier yang menanjak, menjadi pembantu pribadi Gubernur Jendral  Daendels. Berkat kedekatannya dengan Daendels etos kerja sang meneer lebih miring kearah bisnis ketimbang seorang ahli bedah, ia gandrung berinvestasi  dan berspekulasi. Basis investasinya dimulai dari bilangan Jasinga  bogor di sini ia dikenal sebagai seorang tuan tanah
Pada 25 Januari 1813 Dr. Andries membeli tanah di Sukabumi, luasnya kurang lebih  lima perduabelas dari seluruh luas tanah yang ada di Sukabumi Intuisi bisnisnya kian peka  ketika melihat perkembangan tanah di Sukabumi kalah cepat dengan  wilayah Bandung. Untuk itu ia segera mengajukan permohonan untuk menukar tanahnya di  Jasinga dan Sukabumi dengan tanah di Bandung .Permohonannya dikabulkan, kemudian ia menetap di  Bandung di kampung Banong dan kawin dengan putri Priangan.
Perasaan kecewa yang mendalam dialami Dr. Andries ketika kepemilikan tanahnya   dibatalkan oleh Gubernur Jendral Van der Capellen. Ia khirnya pulang ke Belanda membenamkan frustrasinya di sana.
Namun pemikiran tuan tanah legendaris  dan pendiri   tidak resmi kota Sukabumi dan Bandung ini kesudahannya diterima Pemerintah Belanda yaitu yang terasa abadi sampai sekarang adalah memindahkan Ibu Kota Keresidenan Priangan dan Cianjur ke Bandung yang direalisasikan oleh Residen Van Der Moore pada 1864.
Dan ia jugalah yang mengajukan permohonan ke Batavia untuk merubah nama  Cikole menjadi Sukabumi, usul ini diterima, 8 Januari 1815 Cikole resmi berganti nama Sukabumi.
Pembatalan  kepemilikan tanah oleh pihak swsta kayak yang dialami Dr. Andries, cukup memberikan isyarat bahwa permerintah kolonial amat serius memeras bumi Priangan guna kepentingan agrobisnis, yaitu  komoditas perkebunan  kopi  dan kemudian  perkebunan teh. Bukankah dengan sistem kerja rodi pengelolaan perkebunan akan mendapatkan keuntungan yang berlipat lipat.
Hampir satu abad sebelum adanya Culturstelsel, rakyat Priangan telah dikenalkan dengan Sistem Priangan ( Prianger Stelsel. Dengan sistem ini  Kompeni VOC memanfaatkan pengaruh dan peranan para bupati dan bangsawan untuk mengerahkan tenaga rakyatnya guna wajib menanam kopi  di tanah tanah perkebunan. Kepada Para bupati dan bangsawan Priangan itu diberikan premi dan hadiah atas keberhasilannya membuka perkebunan kopi   di daerahnya masing-masing ( Sejarah Sukabumi, Oleh Ruyatna Jaya, Penerbit Yayasab Pendidikan Islam ( YPI ) Sukabumi, tanpa tahun penerbitan ). Dengan sistem tersebut perkebunan kopi di daerah Priangan berhasil dengan baik plus ditunjang infra struktur jalan pos dari Anyer ke Panarukan yang membelah wilayah Priangan : Bogor, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang sampai Cirebon yang berhasil menembus pedalaman Priangan pada waktu itu.
Demikian sekelumit masa lalu Sukabumi. Dalam hal ini kita masih bisa  menangkap bias agrobisnis pada  lahan Sukabumi, yaitu tata kelola perkebunan, yang aktual sampai sekarang adalah perkebunan teh. Harapan yang lebih baik adalah bagaimana mengapresiasikan  bahkan mengaktualisasikan sisi masa lalu itu menjadi bagian dari fitrah Sukabumi. Dengan tidak mengingkari  romantisme  nostalgia itu akan berhadapan dengan globalisasi  dan modernisasi
 Untuk itulah perlu bergegas dicari nilai integritas Sukabumi . Kita memerlukan “ Brand Image “ untuk itu !
Dan biasanya  dibeberapa kota  “ Brand Image “ itu  begitu gampang ditemui bahkan dinikmati warga kota, sebab kadang-kadang ia hadir dalam figur landmark kota yang memiliki sisi ruang publik. Membahas tentang “ Brand Image “ yang intrinsik dan berkarakter identitas, mestilah juga memerlukan  kreatifitas sehingga bisa ditemukan orisinalitasnya sebagai produk local genius yang tidak terpisah dari kulturnya. Pada kenyataan
Bahkan juga di ranah akademispun atmosper pencarian identitas itu semakin seru, karena berpijak pada interpretasi sejarah. Ambilah contoh  tokoh sejarah PARAMESWARA nya kemasan ini tidak habis habis digali dan ditemukan !  Apakah itu mulai dari pakaian  khas, arsitektur bangunan, legenda/mitos atau bahkan makanan khas. figur setengah dewa yang berkelana dari Bukit Seguntang  di tengah kota Palembang, pada kurun waktu penghujung  abad ke 14 di masa-masa kritis keruntuhan Majapahit.
Dari penulisan yang berbeda. Barat dengan bukunya Suma Orientale oleh Tome Pires dan tradisi melayu dalam Sejarah Melayu, ke dua duanya sepakat tentang pendiri Kerajaan Melayu Malaka, kedua duanya menelusuri dari tokoh penguasa Palembang,  yakni Parameswara. Kedua duanya juga sepakat tentang kedatangannya di Tumasik ( sekarang Singapura ). Sekarang ke dua negara Malaysia dan Singapura saling mengklaim  bahwa Paramwswara adalah pendiri negara mereka, sebuah aspek yang mengedepankan ekspresi dari akar, identitas dan integritas , khusus pada  elemen sejarah perjalanan bangsa  mereka.
Kembali ke esensi tulisan ini, yang bermuara kepada kehendak untuk menampilkan  fitrah Sukabumi yang senantiasa mengekspresikan wajah kotanya.
Oke, kita  coba berjalan dengan memakai kacamata pelancong, menuju ke jantung kota Sukabumi, tidak salah, Lapang Merdeka. Inilah permukaan alun alun  yang tertekan  atau terjerembab   secara ekstrem  tersulap menjadi lapangan yang hambar, masa mudanya sebagai  “ alun alun kadipaten “ sangat tersia sia. Penampilan pendopo kabupaten di sebelah selatan  terlihat jelas  belum ada ikhtiar untuk membuatnya kharismatis, figurnya tertatih tatih tertutupi tanaman hias  yang bergerombol  minus ditata secara serasi dan estetis. Boleh jadi  banyak orang  belum tahu  disana ada kantor legitimasi pemerintah.
Melangkah ke utara  sebelah barat kita (  maaf)  dihadang Pos Traffic Management Center  yang  sayangnya menutupi pandangan  ke Masjid Agung yang baru selesai  , bangunan monumental ini selayaknya  bebas terlihat dari setiap sudut sehingga kemonumentalannya  lebih  terasa bergairah ! Sepotong sisa alun alun kecil  di depan mesjid  malah terasa sempit dan sumpek.
Terus melangkah ke   Lapang Merdeka kita akan disapa egoisme arsitektur, semua ingin tampil sendiri-sendiri, tidak satupun  mengharmonisasikan  bercirikan Sunda.
                                                                                                                                                           
Maka dari itu tibalah saatnya bagi Sukabumi menterjemahkan aspek dan nilai agrowisata yang memberikan sentuhan  brand image  yang di dalamnya terisi akar,identitas  dan karakter  yang terintegrasi pada wajah kotanya.
Pada akhirnya ini semua hitung hitungan untuk dijual pada pasar wisata, agrowisata misalnya, begitu !                                     
                                                                                                                                

                                                                                                                                                      Sukabumi, 20 Agustus 2013